Rabu, 27 Agustus 2014

cerpen "Aku Dan Dirimu"

Aku dan Dirimu

Aku ini hanyalah ranting kecil yang rapuh. Tiba-tiba rembulan yang begitu indah jatuh di depanku dan menghampiriku. Kilaunya begitu memukau, memikat hati. Dia bertanya namaku, namun aku tak mampu menjawabnya, lantaran hati yang bergejolak  saat menatapnya. Aku pun tak mengerti, mengapa begini? Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kemudian, ku bertanya pada malam “sesuatu apakah yang telah terjadi padaku, wahai malam?” namun malam tak menjawab. Kemudian, ku bertanya pada bintang “sesuatu apakah yang telah terjadi padaku, wahai bintang?” bintang pun hanya diam tak berkomentar. Dan akhirnya aku pun bertanya pada Tuhan “sesuatu apakah yang telah terjadi padaku, ya Rabb? Sesungguhnya hanya padaMulah tempatku bertanya, tolong jelaskan pada hambaMu yang lemah ini” Tuhan pun masih saja membisu seperti dahulu walau sejatinya dia sedang berfirman. Aku terdiam, mencoba menerka-nerka, namun tak mampu. Lalu bagaimana bisa ku menjawab pertanyaan hati  yang begitu asing bagiku.
Tiba pada suatu hari yang kelabu. Ku dipertemukan lagi dengannya, dengan kau yang membuatku merasakan sesuatu yang asing. Rasa itu pun semakin membara dari biasanya.Entahlah mengapa demikian? Aku pun kembali menerka-nerka
 “Apakah karena terik matahari yang begitu menyengat?? Oh sepertinya tidak, saat ini memang panas tidak seperti biasanya karena akan terjadi pergantian musim”
“lalu apakah hanya perasaanku saja?? Ya, bisa jadi tidak”
“jika tidak, apakah ini karena kau? Ya kau”

Kau racuni otakku, dengan senyum manismu. Kau buat jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun menyapamu aku tak mampu. Menatap wajahmu pun aku malu. Andai aku punya cukup keberanian, ingin kutanyakan padamu “Apakah kau bidadari surga yang merantau ke bumi?” kataku dalam hati
Tanpa sadar, tenyata kau melihatku sedang memperhatikanmu dan lagi –lagi kau memanggilku dan bertanya “siapa kau?” maaf aku tak dapat menjawabnya. Lataran aku bisu ketika melihatmu. Tubuhku gemetar dan kaku karena tak ingin disebut aneh olehmu. Akhirnya aku pergi, berlari sejauh mungkin. Kau tertawa melihat tingkahku yang begitu aneh. Aku tersenyum sambil tersipu malu. Oleh karenanya aku terus berlari dan tak ingin menoleh. Pandanganku jauh ke depan. Sejauh mana aku berlari? Aku pun tak tau
Rasa lelah menyerangku. Akhirnya aku duduk tertunduk lemah tak berdaya. Ketika penatku mulai berkurang. Ku coba membuka mata perlahan. Kulihati pemandangan di sekitarku. Tempat yang begitu sepi, damaikan hatiku. Tak ada manusia yang berkeliaran. Benar-benar sebuah taman yang indah. Penghuninya pun hanya aneka ragam tanaman. Angin sepoi-sepoi membelaiku. Semut merah menyambut kedatanganku. Kupu-kupu kuning pun ucapkan salam padaku. Aku layaknya tamu di istana mereka. Subhanallah, indahnya ciptaanmu ya Rabb. Kemudian aku teringat kembali padamu, fikiranku melayang jauh di atas sana. Dengan ragu, aku bertanya pada diriku “apakah aku jatuh cinta?” aku tersentak dari lamunan panjangku. Benarkah aku mencintainya? Cinta pada pandangan pertama, bagiku itu mustahil. Mencintai tanpa ku ketahui karakternya. Apakah ini cinta yang hakiki? Apakah hanya nafsu semata?
“ya Allah jika mencintainya dapat mengurangi kecintaanku pada-Mu, maka hapuskanlah rasa cinta yang bersemayam dalam jiwaku. Dan jika cinta ini kau restui maka jodohkanlah kami, dalam sebuah ikatan yang sakral nan suci”


                                                                                                                                        

 Wulansari, 24 oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar